Selasa, 31 Maret 2015

ORtu ceRdas Anak Cerdas!

Sedikit oleh-oleh dari Seminar Parenting

              "Smart Parents Smart Children"

Materi yang sangat bagus untuk para orang tua yang diberikan oleh Ust Sidik dari MYC (Maestro Youth Club) . •Tidak terasa, sebenarnya waktu kita untuk mendidik anak itu sangatlah singkat. Saat anak sekolah ditempat jauh, saat anak waktunya kuliah di kota lain, saat ia menikah... Sangat singkat Bunda! Gunakanlah waktu sebaik-sebaiknya untuk menanamkan hal baik ke anak, karena tidak terasa, itu akan segera berlalu.
🎁Waktu berharga pengasuhan anak:

🍼7 tahun pertama (0-7 tahun): Perlakukan anakmu sebagai raja. Zona merah - zona larangan jangan marah-marah, jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak. Pahamilah bahwa posisi anak yang masih kecil, saat itu yang berkembang otak kanannya.

🍼7 tahun kedua (7-14 tahun): Perlakukan anakmu sebagai pembantu atau tawanan perang. Zona kuning - zona hati-hati dan waspada. Latih anak-anak mandiri untuk mengurus dirinya sendiri, mencuci piring, pakaian, setrika, dll. Banyak pelajaran berharga dalam kemandirian yang bermanfaat bagi masa depannya.

🍼7 tahun ketiga (14-21 tahun): Perlakukan anak seperti sahabat. Zona hijau - sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas untuk mandiri. Mereka sudah bisa dilepas sebagai duta keluarga.

🍼7 tahun keempat (21-28 tahun): Perlakukan sebagai pemimpin. Zona biru - siap terbang. Siapkan anak untuk menikah. •Pada masa anak-anak yang berkembang otak kanannya. Otak kiri berkembang saat usianya menjelang 7 tahun. Anak perempuan keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih cepat. Sedangkan anak laki lebih lambat. Keseimbangan otak kanan dan kiri pada anak laki-laki baru tercapai sempurna di usia 18 tahun, sedangkan anak perempuan sudah cukup seimbang otak kanan dan kirinya di usia 7 tahun. Ampun dah lama bener ya? No wonder our hubby suka rada ajib. He...he....
•Ternyata ada rahasia Allah mengapa diatur seperti itu.

🍰Laki-laki dipersiapkan untuk jadi pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Untuk itu, jiwa kreatifitas dan explorasinya harus berkembang pesat. Sehingga pengalaman itu membuatnya dapat mengambil keputusan dengan tenang dan tepat.

🍧Sementara perempuan dipersiapkan untuk jadi pengatur dan manajer yang harus penuh keteraturan dan ketelitian. •Untuk memberi intruksi pada anak, gunakan suara Ayah. Karena suaranya bas, empuk dan enak di dengar. Kalau suara Ibu memerintah, cenderung melengking seperti biola salah gesek. Itu bisa merusak sel syaraf otak anak. 250rb sel otak anak rusak ketika dimarahin.

🎁Solusinya, Ibu bisa menggunakan bahasa tubuh atau isyarat jika ingin memberikan instruksi. Suara perempuan itu enak didengar jika digunakan dengan nada sedang. Cocok untuk mendongeng atau bercerita.

🎈Cara berkomunikasi yang efektif dengan anak:

1. Merangkul pundak anak sambil ditepuk lembut.
2. Sambil mengelus tulang punggung anak hingga ke tulang ekor.
3. Sambil mengusap kepala. Dengan sentuhan ada gelombang yang akan sampai ke otak anak sehingga sel-sel cintanya tumbuh subur.
•Demikian sedikit oleh-olehnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat....☺

Senin, 30 Maret 2015

KeNapa Anak KeRas kepaLa???

Berikut 8 Penyebab anak berperilaku keras kepala dan suka melawan:
1. SIKAP OTORITER ORANGTUA.
     yaitu orangtua terlalu menekan atau memaksa anak untuk menuruti semua kenginannya tanpa melihat kondisi dan kemampuan anak. Orangtua bersikap otoriter kepada anak biasanya karena mereka merasaserbatahu apa yang terbaik untuk anak dan apa yang harus dilakukan anak. Orangtua meyakini bahwa untuk berhasil dalam membimbing, mengarahkan perilaku, dan mendidik anak sehingga menjadi anak yang baik diperlukan cara-cara yang tegas dan keras. Anak yang merasa terus ditekan atau dipaksa dan merasa tidak mampu memenuhi semua keinginan orangtua pada akhirnya akan menunjukkan sikap melawan.

2. BERBICARA KEPADA ANAK DI SAAT YANG TIDAKTEPAT.
      Kerap kali terjadi, misalnya orangtua meminta anak melakukan sesuatu, padahal anak tengah asyik bermain atau menikmati aktivitas kesukaannya. Anak pun merasa terganggu dengan permintaan orangtuanya tersebut. Dalam kondisi seperti ini, anak biasanya akan mengabaikan permintaan orangtuanya,menunda melaku¬kannya, atau langsung menolaknya.Jika orangtua terus memaksa, sangat mungkin akan terjadi ketegangan atau konflik dengan anak.

3. KEINGINAN ANAK TIDAK DI PENUHI.
      Anak sangat menginginkan sesuatu, tetapi orangtuanya tidak dapat memenuhi keinginan tersebut. Anak pun kemudian menunjukkan perilaku keras kepala atau suka melawan orangtua. Anak melakukan ini untuk mencari perhatian orangtua dan sebagai cara untuk menyampaikan protes. Anak berharap dengan perubahan perilaku yang ditunjukkannnya, orangtua mau memenuhi keinginannya.

4. ANAK DIBIARKAN TUMBUH TANPA BIMBINGAN.
     Hal ini bisa terjadi ketika orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau memang orangtua kurana mampu memberi perhatian dan didikan yang dibutuhkan anak hingga nilai-nilai kebaikan, seperti sopan santun, menghargai orang lain, atau batasan benar-salah, boleh¬ tidak boleh, tidak tertanam dengan baik pada diri anak. Anak pun tumbuh menjadipribadi yang egois dan suka melawan orangtua.

5. PENGARUH LINGKUNGAN.
    Anak begitu mudah meniru perilaku teman-¬temannya, orang-orang lain yang dikenalnya, atau tayangan televisi. Ketika anak mendapati teman-temannya atau orang lain menunjukkan perilaku suka melawan kepada orangtua, anak-anak pun akan dengan mudah melakukan hal yang sama.

6. MENCONTOH PERBUATAN ORANGTUANYA.
     Mungkin anak sering melihat kedua orangtuanya bertengkar atau bersikap keras kepala. Atau, anak melihat orangtuanya tidak patuh kepada nenek dan kakeknya. Anak pun dapat terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya.

7. ANAK TERLALU DI MANJA.
     Semua keinginanya selalu diberikan. Jika suatu saat ada keinginannya yang tidak dipenuhi, anak akan memprotes dan melawan.

8. HUBUNGAN ANTARA ORANGTUA DAN ANAK TIDAK HARMONIS.
     Ikatan kasih sayang dan pengertian antara mereka pun kurang. Kondisi ini rentan menimbulkan konflik antara orangtua dan anak

Senin, 23 Maret 2015

Be a PosiTive

Mengasuh Dengan Teknik Hypnoparenting  

Hypnoparenting adalah teknik hypnotherapy (terapi dengan hipnosis) yang secara khusus diterapkan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Secara garis besar, teknik ini bermanfaat meningkatkan kualitas komunikasi dan kecerdasan spiritual orang tua dan anak. Bekerja langsung pada alam bawah sadar anak, membuat orang tua dapat menerapkan pola asuh tanpa paksaan.

Prinsip utama hypnoparenting adalah mengucapkan kata-kata sugestif berulang-ulang kepada anak ketika otak anak sedang berada dalam gelombang Alpha (8 - 12 Hz). Ketika anak dalam kondisi relaks atau istirahat (mengantuk dan mata mulai tertutup) itulah kondisi otak anak dalam gelombang Alpha. Ketika otak bekerja dalam gelombang Beta (12 - 19 Hz), otak berada dalam keadaan waspada (alert), sedangkan dalam keadaan tidur lelap otak berada di gelombang Theta (4 - 8 Hz).

Kalimat-kalimat yang mengarahkan perilaku positif anak dapat Anda bisikkan di telinga anak ketika anak sedang beralih dari kondisi waspada ke kondisi mengantuk dan tertutup matanya. Kalimat afirmatif positif (maupun negatif) menjadi sugesti akan masuk dan "direkam" alam bawah sadar ketika disampaikan ketika anak dalam fase tersebut. Oleh karena itu, para ahli hipnosis akan melatih orang tua memformulasikan kalimat dengan tepat agar "program" yang disampaikan pada anak tepat.

Dari dua pernyataan berikut, salah satu bukan kalimat sugestif yang patut didengar anak tetapi tanpa sengaja lontarkan dilontarkan orang tua:

“Bunga, kamu selalu berantakan. Coba atur kamar kamu supaya tidak berantakan begini. Tiap hari pasti berantakan…” Karena setiap hari ibunya berkata demikian, Bunga tumbuh menjadi anak yang tidak rapi, selalu berantakan.

“Anak mama anak yang pandai kok, kamu pasti bisa dan pantang menyerah ya…” Sekalipun balita gagal dalam melakukan suatu hal, seperti tugas sekolahnya, kata-kata positif seperti ini justru membuatnya menjadi anak yang pandai dan pantang menyerah. Ia akan tumbuh dengan rasa percaya diri.

HINDARI:

-Menyusun kalimat afirmatif yang mengandung kata "tidak", "jangan", "tanpa" dan kata-kata yang bermakna negasi. Alam bawah sadar hanya dapat "memahami" kata-kata dasar. Misalnya, Anda mengatakan, "Jangan nakal, ya!", yang terekam di alam bawah sadar justru kata "nakal". Jadi, sebaiknya diubar, "Jadilah anak pintar!".
-Menyampaikan sugesti dalam kondisi marah atau emosi yang sedang tidak stabil. Redakan kemarahan atau rasa ingin tergesa-gesa dengan mengatur nafas.

MANFAAT
-Meningkatkan kecerdasan spiritual atau SQ (Spiritual Quotient) anak.
-Meningkatkan kualitas komunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal (karena ikatan batin anak-orang tua sangat erat).
-Mengarahkan proses tumbuh kembang anak.
-Mempersiapkan generasi sehat, cerdas dan kreatif.
-Membantu anak yang sakit jadi lebih tenang, merasa aman terlindung sehingga kualitas tidur lebih baik dan daya tahan tubuh meningkat.
-Membantu orang tua lebih paham kepribadian anak.
-Membimbing orang tua menjadi bijaksana dan peka secara spiritual dalam mendidik dan mengasuh anak.
-Mengarahkan orang tua selalu menjadi pribadi positif.

Minggu, 22 Maret 2015

MuLaiLah sejak Dini

Melatih Anak Beribadah Sejak Dini

“Anak-anak Ayah yang saleh dan hebat, ayo lekas bangun. Waktu Subuh sebentar lagi tiba. Kita siap-siap shalat Subuh berjama’ah”, ujar seorang Ayah membangunkan anak-anaknya.

Anak-anaknya segera bangun dan bangkit menuju kamar mandi. Mereka tampak bersemangat mengambil air wudhu untuk kemudian shalat Subuh berjama’ah dengan Ayah dan Bundanya.

٭٭٭

Ayah-Bunda, sebagai umat Islam, tentu kita memahami bahwa ibadah kepada Allah adalah perkara yang sangat penting. Karena, tujuan manusia diciptakan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, orangtua perlu membiasakan anak-anaknya untuk belajar dan berlatih beribadah sejak dini.

Salah satu ibadah yang sangat fundamental dalam Islam adalah shalat. Shalatlah yang menjadi pembeda antara muslim dan kafir. Shalat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak. Lebih dari itu, shalat merupakan sarana komunikasi makhluk (manusia) dengan khaliknya (Allah swt) dan sekaligus bentuk penghambaan diri kepada-Nya.

Oleh karena itu, setiap orangtua harus melatih dan membiasakan anak-anaknya beribadah sejak dini. Sehingga, ketika memasuki usia balig, anak sudah terbiasa mengerjakan shalat dan amal ibadah lainnya yang menjadi kewajibannya. Melatih dan membiasakan anak-anak beribadah merupakan kewajiban orangtua sebagai bagian dari pendidikan yang harus diberikan kepada anak.

Al-Qur’an menerangkan, “Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha [20]: 132).

Sekali lagi mari kita belajar kepada Luqman. Luqman adalah sosok orangtua yang berhasil mendidik anak-anaknya. Maka, pantas saja Allah mengabadikan kisah Luqman dalam Al-Qur’an. Bahkan, menjadikan namanya sebagai salah satu nama surat dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an menerangkan, “Wahai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31]: 17).

Setelah pada ayat sebelumnya mengisahkan Luqman yang menanamkan tauhid kepada anak-anaknya, pada ayat ini mengisahkan Luqman yang mengajarkan anak-anaknya agar mendirikan shalat dan melakukan amar makruf nahyi munkar. Luqman memahami bahwa setelah tauhid (akidah), maka perkara penting selanjutnya adalah ibadah. Karena itulah, ia begitu telaten mengajarkan anak-anaknya agar taat beribadah kepada Allah.

Nah, mari kita latih dan ajari anak-anak kita beribadah sejak dini. Rasulullah saw. menganjurkan kita agar melatih dan mengajari anak-anak beribadah sejak anak berusia tujuh tahun. Tentu saja lebih dini lagi, itu lebih baik. Karena, untuk menanamkan karakter taat beribadah pada diri anak perlu pembiasaan sejak dini. Ketika anak sudah terbiasa, maka perlahan akan menjadi sebuah karakter.

Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, ‘Perintahkan anak-anakmu shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun. Dan, pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika telah berusia dua belas tahun. Dan,pisahkanlah tempat tidur mereka.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).

Ayah-Bunda, jangan sampai kita termasuk orangtua yang melalaikan kewajiban ini. Karena, sesungguhnya Allah telah mengingatkan kita agar memelihara diri dan keluarga kita dari api neraka. Ketika kita tidak pernah mengajari dan melatih anak-anak untuk beribadah, sehingga mereka tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang melalaikan shalat, bahkan hingga dewasanya, maka kelak di akhirat anak-anak kita akan menuntut kita. Mereka akan menarik kita untuk sama-sama masuk neraka. Naudzubillah…

Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Alangkah indahnya jika setiap keluarga muslim mengajari dan melatih anak-anak mereka untuk beribadah sejak dini. Berikan contoh dan teladan terbaik bagi anak-anak dalam hal beribadah dan hal-hal lainnya. Dengan demikian, kelak diharapkan akan lahir generasi muda Islam yang saleh dan salehah serta unggul. Selamat melatih anak-anak Anda untuk beribadah!

Jumat, 20 Maret 2015

RuLe meniTip aNak

Menitip Anak pada Ortu?

Beberapa hari lalu saya menyaksikan filmParental Guidance yang dibintangi Billy Crystal, Bette Midler, dan Marissa Tomei. Filmnya pas banget dengan kondisi saya. Kenapa? Karena saya gemar menitipkan anak pada orang tua untuk diawasi.

Memang sih, alur cerita Parental Guidancedan tema besarnya bukan tentang itu, thok.Tapi entah kenapa, yang lebih “jleb” justru urusan menitipkan anak pada ortunya itu, lho. Saya bisa melihat persoalan ini dari perspektif orangtua alias kakek dan nenek.

Hingga saat ini, saya masih suka menitipkan Nadira di rumah mertua saya. Kebetulan, rumah mertua hanya beda beberapa rumah dari rumah kami. Kemudian, suami saya itu tipe paranoid, yang enggan meninggalkan anak berdua saja dengan ART di rumah. Jadi, deh, setiap pulang sekolah, Nadira ke rumah neneknya dan dijemput saat kami pulang kantor. Meski begitu, saya tetap menugasi pengasuh Nadira untuk meladeni semua kebutuhannya. Jadi mertua saya hanya mengawasi saja.

Itupun kami masih suka merasa nggak enak. Saya dan suami takut kalau mertua jadi terbebani atau terkekang. Makanya kami berusaha keras agar kehadiran Nadira di rumah mertua tidak merepotkan beliau. Untuk makanan, susu dan snack, saya siapkan sendiri. Kemudian, kami juga memberi uang bulanan kepada mertua sebagai “kompensasi”. Awalnya mertua menolak, tapi karena kami yakinkan dengan argumentasi yang masuk akal, akhirnya beliau mengerti.

Kenapa kami mau repot-repot begini? Sebab kami berusaha memberi batasan. Nadira adalah anak dan tanggung jawab kami. Semua kebutuhannya HARUS kami yang penuhi. Jangan sampai karena kami lalai memenuhi, Nadira jadi merepotkan orang lain, meski itu kakek dan neneknya sendiri.

Ternyata, pedoman ini juga dianjurkan oleh seorang psikolog terkenal. Saya pernah baca rubrik konsultasi yang ia asuh di sebuah tabloid. Saat itu, ia menjawab pertanyaan seorang ibu yang mengeluh karena masih tinggal bersama mertuanya.

Saya lupa kalimat persisnya, tapi kira-kira tulisan sang psikolog begini, ya:

“Ibu saya itu sakelijk kepada anak dan cucunya. Saat saya menitipkan anak, ibu membolehkan. Tapi saya harus membawa pengasuh anak dan kebutuhan anak saya sendiri. Ibu menegaskan, anak saya adalah tanggung jawab saya. Jadi beliau bersedia dititipi anak, tapi hanya mengawasi dan mengajaknya bermain, bukan memandikan, menyuapi atau mengejar-ngejarnya. Itu sepenuhnya adalah tanggung jawab orang tua si anak, yang bisa didelegasikan ke pengasuh.

Selain itu, ibu saya juga tegas jika ada anaknya yang tinggal di rumah. Si anak harus membayar biaya listrik, biaya makan, dan lain-lain. Tidak ada namanya menumpang gratis. Apalagi jika si anak menumpang tinggal bersama istri/suami dan anaknya. Ia harus mengurus segala sesuatu sendiri, mulai dari makanan, cucian sampai membersihkan kamar. Rumah ibu saya ibaratnya hanya sebagai kos-kosan. Si anak dan keluarganya harus bertanggung jawab atas semua kebutuhannya sendiri dan membayar kewajibannya tiap bulan.

Memang banyak saudara yang kaget dengan sikap ibu. Tapi menurut saya, justru inilah yang terbaik. Saya dan adik-adik saya jadi terbiasa mandiri, baik secara psikis maupun finansial serta menghormati ibu sebagai orang tua maupun sebagai seorang pribadi. Jika ibu saya tidak tegas seperti itu, bisa jadi anak-anaknya akan bertingkah seenaknya dan memperlakukan ibu dengan tidak hormat. Tugas ibu mengurus anak-anaknya kan sudah selesai saat anak-anaknya mandiri. Masa harus ditambah dengan mengurus cucu dan anak-anaknya yang sudah menikah?”

Siapa yang merasa “jleb” dengan komentar sang psikolog tadi? *tunjuk diri sendiri hehehe…*

Makanya saya merasa beruntung punya suami yang satu visi untuk urusan ini. Bahkan suami saya lebih lebay. Dulu saat saya masih tinggal nebeng sama mertua dan orang tua saya, suami selalu membelikan beras, minyak dan kebutuhan rumah tangga lainnya untuk mertua dan ortu saya. Alasannya, kami sering tinggal dan numpang makan, plus menitipkan Nadira. Padahal saya berpikir, memberi uang bulanan saja sudah cukup.

Anyway, poin-poin etika menitipkan anak pada orang tua mungkin bisa dirangkum sebagai berikut:

Awali semua dengan rasa “tidak enak”. Jangan mentang-mentang itu orang tua atau mertua sendiri, lantas kita bisa seenaknya menitipkan anak. Kita sudah jadi orang tua, lho, anak adalah tanggung jawab kita sepenuhnya, bukan orang lain meski itu kakek dan neneknya sendiri.Penuhi kebutuhan anak agar tidak membebani ortu kita. Bu Elly Risman pernah berkata, “Tubuh kami (ortu, Red), tidak didesain untuk mengejar-ngejar cucu. Kami ini sudah renta. Anak adalah tanggung jawab ortunya, bukan kakek neneknya.” Jadi kalau kita mau menitipkan anak, sediakan pengasuh dan segala kebutuhan anak. Kalau kepepet, seperti pengasuh pulang kampung misalnya, minimal sediakan segala kebutuhan anak. Jangan sampai menyusahkan ortu secara fisik dan finansial sekaligus.Berbeda pola asuh dengan ortu? Terima sajalah. Itu, kan, risiko yang kita ambil saat memutuskan untuk menitipkan anak pada ortu, bukan? Kalau tidak mau, ya, jangan titipkan anak, dong. As simple as that :)Kalau memang ada yang mengganjal sekali, utarakan dengan hati-hati. Kita bisa kan bersikap ekstra hati-hati bahkan memanjakan ART/nannydengan tujuan agar mereka tidak mudik? Lalu kenapa sama ortu sendiri nggak bisa? Padahal mereka yang melahirkan dan mengasuh kita sejak kecil, lho.Kasih sayang ibu sepanjang masa, kasih sayang anak sepanjang galah. Ingat pepatah tersebut? Oleh karena itu, menurut saya, sebanyak apapun saya memberi uang atau harta benda pada ortu dan mertua, tetap tidak akan mampu membalas semua yang pernah mereka berikan. So please be generous to your parents, tentu sesuai kemampuan ya. Apalagi jika ortu kita sehari-hari membantu mengasuh anak. Sebisa mungkin berikan uang bulanan meski hanya sedikit. Kalau ortu menolak, berikan hadiah-hadiah kecil sebagai kejutan. Entah itu makanan kesukaannya, blus cantik atau pajangan favorit. Minimal, berikanlah perhatian kepada merekabecause it’s the least that we can do, right?

Kamis, 19 Maret 2015

AYAH.. MAAF.

Mengapa Anak-anak Tidak Telepon Ayah?

Written By:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Direktur Auladi Parenting School
Pembicara Parenting Internasional di 4 negara
dan Pembicara Nasional Parenting di 24 Propinsi, lebih dari 70 Kota di Indonesia
www.auladi.net

Cerita ini diceritakan seorang perempuan, sebut saja ibu UQ, lewat facebook kepada saya. Perempuan ini sudah menikah dan punya anak. Tapi yang diceritakannya adalah tentang orangtuanya sendiri. Cerita ini bagi saya sungguh membuat pikiran saya merenung panjang. Apakah saya akan menjadi orangtua yang secara tidak sengaja atau tidak mendapat perlakuan begini kelak? Dan ini cerita ini saya pikir patut diketahui oleh banyak para ayah lain di dunia.
“Assalamualaikum...Abah, saya ingin berbagi cerita, Ayah dan Ibu sekarang sudah sepuh, kami 4 orang anak-anaknya (3 laki-laki dan 1 perempuan yaitu saya) sudah berkeluarga semua dan tinggal terpisah dengan mereka. Pada suatu hari Ayah kami protes terhadap Ibu dan ini yang dikatakanya”

“Mengapa setiap anak-anak telepon, lalu telepon itu yang jawab Ayah, selalu yang pertama diucapkan anak-anak ‘Ibu mana pa? Ibu sehat pa?’ atau ‘Pa maaf mau berbicara dengan Ibu’, selalu yang dicari Ibunya. Sedangkan saya sebagai Ayahnya yang menjawab telepon ditanya kabarnya pun tidak.”

Begitulah cerita Ibu kepada kami berempat anak-anaknya. Tanpa kami sadari memang seperti itu adanya, Ibu adalah sangat berarti bagi kami dan kami anak-anaknya lebih dekat dan lebih nyaman dengan Ibu.

Dengan bijak Ibu memberi saran kepada kami agar lebih peduli dengan Ayah, di hari tuanya setelah 10 tahun lalu pensiun, Ayah tidak banyak kegiatan. Sehingga, Ayah sering merasa kesepian.

Kami anak-anak bukan tidak sayang dengan Ayah. Bagi kami Ayah dan Ibu sama-sama kami sayangi. Permasalahannya dari kecil kami dekat dengan Ibu karena 90% kami dirawat dan dididik oleh Ibu sebagai Ibu Rumah Tangga.

Ayah yang seorang aparat, waktunya banyak tercurah untuk pekerjaannya sebagai abdi negara. Sehingga, sering Ayah pulang larut malam bahkan hari libur sekalipun Ayah masih harus dinas. Bisa kita petik hikmahnya ya Abah, bahwa sesibuk apapun peran Ayah dalam mendidik anak-anaknya juga penting.

Sewaktu Ayah muda tidak menyadari bahwa Ayah jarang sekali bercengkerama atau berdiskusi bersama kami anak-anaknya waktunya dihabiskan di luar rumah dengan dalih pekerjaan. Hal ini membuat kami anak-anaknya tidak dekat.

Kini, Ayah di masa tuanya mengisi hari-hari di rumah merasa kesepian dan merasa anak-anaknya jauh darinya. Semoga para Ayah di luar sana dapat membaca cerita yang kami alami ini serta dapat mengambil pelajaran dari cerita ini.

Dan untuk Ayahku tercinta maafkan atas sikap kami Ayah, sungguh bukan maksud kami tidak peduli, kami berjanji untuk lebih memperhatikan Ayah. Bagi kami Ayah dan Ibu adalah segalanya. Kami harap di hari tuanya Ayah dan Ibu dapat berbahagia menyaksikan anak-anaknya berhasil dalam karier dan rumah tangganya dan semoga kami dapat menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kami.

آمِّيْنَ....آمِّيْنَ.... يَا رَبَّ الْعَالَمِي...

Abah. Terima Kasih.
Wasalamu’alaikum"

Perasaaan itu tidak bisa dibohongi. Kasih sayang dan kecintaan (mahabbah) bisa terjalin dimulai dari hal sederhana: kedekatan secara emosional. Pun demikian juga kedekatan orangtua anak, kedekatan emosional dapat tercipta dengan adanya interaksi yang intens orangtua dengan anak. Yaitu, orangtua yang sering hadir bersama anak, bukan hanya di dekat anak. Bersama anak artinya orangtua saat di dekat anak tidak dicampuri urusan bertiga dengan urusan dapur, cucian, pekerjaan, facebook, bbm-an, laptop, televisi dan seterusnya.

Kebersamaan dengan anak adalah awal untuk menumbuhkan perasaan kasih sayang anak terhadap orangtuanya. Ketika tersedia kebersamaan, tersedia pula lebih mudah perhatian.

Cerita lain, seorang ibu di Lhokseumawe, Aceh bercerita kepada saya bahwa saat ini orangtua terbaring di rumah sakit. Kira-kira begini yang diceritakan beliau kepada saya: “Saya memang memijit ayah saya. Saya memang merawat dan menunggui ayah saya di rumah sakit. Tapi, Abah bagaimana caranya menumbuhkan perasaan sayang saya dengan ayah saya?

Rasanya saat saya memijit ayah saya, hambar terasa. Seperti tanpa rasa. Ayah tahu, waktu kecil memang saya dididik sangat keras oleh ayah saya. Lalu saya pun hidup jauh dari ayah saya. Sehingga pun setelah ayah saya tua, memang saya masih merawat ayah, tapi kok gak ada rasa. Bagaimana Abah agar saya bisa tumbuh perasaan sayang dengan orangtua saya? Apakah saya berdosa abah?”

Saya tidak ingin menanggapi pertanyaan tersebut di sini. Karena saya sudah sampaikan secara privat pendapat saya. Yang saya ungkapkan di sini adalah: mengapa bisa terjadi perasaan “tanpa rasa” terhadap orangtua tidaklah muncul dengan sendirinya. Lihat bagaimana saja interaksi orangtua dengan anak sewaktu anak-anaknya masih kecil.

Tetapi, sekali lagi perasaan tidak bisa dibohongi. Bahwa ibu tadi tetap merawat orangtuanya, bisa jadi hanya karena kepatuhannya pada Allah. Bisa jadi hanya karena ingin mengikuti “SOP” yang sudah diberikan Allah tentang birrul walidain (berbakti pada kedua orangtua). Tetapi apakah tumbuh perasaan kasih sayang atau tidaklah, ditentukan bagaimana interaksi orangtua dengan anaknya sendiri waktu kecil.

Jadi, ayah bunda, jika tidak ingin “ditelantarkan anak”, periksa kembali apakah selama ini kita sudah tidak menelantarkan anak kita? “Jualan darah dan keringat” tidak berarti otomatis anak kita akan dekat dengan kita secara emosional kan?

Apakah yang dimaksud jualan “darah” dan “keringat”? Sebagian orangtua agar anaknya patuh pada orangtua seringkali menjual dua hal tadi dengan kalimat seperti ini “Mama yang melahirkan kamu dengan darah!” atau “Ayah sudah bersusah payah mencari nafkah, berkeringat, demi kalian, demi memenuhi kebutuhan dan masa depan kalian!” Tidaklah berarti otomatis anak-anak kita akan dapat “terbeli” perasaan sayangnya kepada kita.

Bagi para ayah, mencari nafkah adalah kewajiban. Tapi apakah setelah mencari nafkah gugur kewajiban kita yang lain: mendidik anak? Apakah setelah kita menunaikan sholat, otomatis kewajiban kita shaum di bulan Ramadhan gugur? Atau sebaliknya? Tentu tidak kan? Periksa kembali sejauh mana keterlibatan kita pada pendidikan anak-anak kita dan bukan hanya “outsourcing” pada guru di sekolah atau ustadz dan ustadzah.

Rabu, 18 Maret 2015

SuaRakaNLah AMIN

📚📚
JANGAN MEREMEHKAN “Aamiin”
📌💐
KH Hafidz Abdurrahman

🌿🌿🌿
Jangan meremehkan “Aamiin”. Maka tidak cukup di dalam hati. Nabi SAW menjelaskan ihwal “Aamiin” ini.

Kata Nabi SAW, “Jibril mengajariku “Amin”, ketika aku selesai membaca al-Fatihah. “Amin” itu seperti stempel untuk al-Qur’an.” Bahkan dalam riwayat lain, “Amin itu adalah stempel Allah, Tuhan semesta alam.”

Abu Bakar menjelaskan, “Maknanya, “amin” itu merupakan stempel Allah untuk hamba-Nya. Karena ia bisa menolak segala penyakit dan bala’ dari mereka.”

Bahkan, dalam hadits lain disebutkan, “Amin itu salah satu tangga di surga.” Maknanya, kata Abu Bakar, “Kata yang dengannya, orang yang mengucapkannya berhak mendapatkan salah satu tangga surga.”

Wahab bin Munabbih berkata,
“Amin terdiri dari 4 huruf (yaitu, Alif, Mim, Ya’ dan Nun), dimana di setiap hurufnya Allah ciptakan satu malaikat. Malaikat itu berkata (ketika ada yang mengucapkan “Amin”), “Allahummaghfir likulli man qala Amin (Ya Allah, ampunilah setiap orang yang mengucapkan Amin).”

Karena itu, sampai seorang penyair mengatakan, “Amin, Amin, aku tidak rela hanya dengan mengucapkan sekali, hingga aku akan mengulangnya 2000 Amin..”
Penyair yang lain mengatakan, “Allah mengasihi seorang hamba yang berkata, ‘Amin”..

Nabi SAW sendiri, ketika habis membaca al-Fatihah, selalu mengucapkan “Aamiin.” hingga bacaannya terdengar oleh barisan pertama dalam shalat. Jadi, tidak cukup mengucapkan “Amin” di dalam hati.

Bahkan, saking istimewanya “Amin”, kata Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umatku, apa yang tidak diberikan kepada siapapun sebelum mereka:
(1) “as-Salam”, yaitu salam penghuni surga;
(2) Barisan malaikat;
(3) Amin..”
(Dinukil dari Tafsir al-Qurthubi, tentang Amin).

Subhanallah..
Andai, kita tahu kemuliaan “Amin”, kita tidak akan melewatkan kata “Aamiin”, meski kelihatannya enteng..

Minggu, 15 Maret 2015

UnTukmu Abi ummi

Copas dr milis sebelah,

Tersedu-sedu…

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ… Sehabis meeting dengan salah satu calon investor di lantai 27, saya buru2 turun ke masjid karena takut terlambat..dan bener aja sampai di masjid adzan sudah berkumandang…

Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya saat itu.. sambil mendengarkan khotbah saya melihat Sang Khotib dari layar lebar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.. Khotibnya masih muda, tampan, berjenggot namun penampilannya bersih..dari wajahnya saya melihat aura kecerdasan..tutur katanya lembut namun tegas…dari penampilannya yg menarik tsb..saya jadi penasaran..apa kira2 isi khotbahnya…

Ternyata betul dugaan saya!!!…isi ceramah dan cara menyampaikannya membuat jamaah larut dalam keharuan..banyak yg mengucurkan air mata (termasuk saya)..bahkan ada yg sampai tersedu sedan... Weleh2..sampai segitunya ya..lalu apa sih isi ceramahnya..koq kayaknya amazing bingitzz…

Dengan gaya yg menarik Sang Khotib menceritakan “true story”..seorang anak berumur 10 th namanya Umar..dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta..tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang..agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya...

Suatu hari isterinya kasih tau kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar.. “Waduuuh saya sibuk ma..kamu aja deh yg datang..” begitu ucap si ayah kpd isterinya..bagi dia acara beginian sangat nggak penting..dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam..sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya..dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya..sedang anak2 yg lain selalu didampingi ayahnya…

Nah karena diancam isterinya..akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah2an.. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus dimana anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.. Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang..sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung…

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehannya masing2..ada yg menyanyi..menari..membaca puisi..pantomim..ada pula yg pamerkan lukisannya..dll.. Semua mendapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka…tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya..

“Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya..pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya..dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung…

“Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya…”Tentu saja boleh nak..” jawab pak Arief.. “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah..” lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (hapalan)..dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)…

Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu…termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop..kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna..sekarang coba kamu baca ayat 9..” begitu kata pak Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar… lalu Umarpun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membacanya…lalu kata pak Arief:“Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”..si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”...

“Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar:”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran…

Begini pak guru…waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW:”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim)…

“Pak guru..saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak..sebagai seorang anak yg berbakti kpd kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengan teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…

Ternyata dia ayah si Umar..yg dengan ter-gopoh2 langsung menubruk sang anak..bersimpuh sambil memeluk kaki anaknya.. ”Ampuun nak.. maafkan ayah yg selama ini tidak pernah memperhatikanmu..tdk pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” ucap sang ayah sambil menangis di kaki anaknya…” Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak…ayah maluuu nak" ujar sang ayah sambil nangis ter-sedu2…subhanallah...

Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yg mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana..dan juga mulai meneteskan airmatanya..termasuk saya..diantara jama’ahpun bahkan ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya...luar biasa haru...

Entah apa yg ada dibenak jama’ah yg menangis itu..mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya..mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kpd anaknya.. mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji..atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya..dan semua..dengan alasan sibuk urusan dunia…!!!

Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akherat..dan lebih sibuk dengan urusan dunia..padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, sendau gurau dan sangat singkat ini..seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An'Amayat 32:”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”...

Astagfirullahal ghofururrohim..hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…

Wallahu ‘alam bissawab.. Semoga bermanfaat..khususnya buat saya pribadi…

Salam,
NHA / Nur Hasan Ahmad

Sabtu, 14 Maret 2015

MaU jadi iBu???

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya .

Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.

Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain.

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an.

Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.

Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu.

Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad .

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah .
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya .

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya :

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam ! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu .
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu . Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya . Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin !”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i .

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman .

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu .

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak .

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan .

Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani .

Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.

~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu...

Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses .
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu .

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri .
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia .

Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999

Semoga terinspirasi...

Jumat, 13 Maret 2015

JanJimu cermiNan Dirimu

Janji adalah utang

Hari ini rasanya sungguh aneh. Yulia merasa dikelilingi oleh berbagai kejadian yang mirip antara satu dengan yang lainnya. Yulia teringat kejadian kemarin waktu dia pergi ke sebuah mal. Ketika sedang turun melalui tangga berjalan, di hadapannya terdapat seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil. Ibu itu berdiri di depan, anaknya di belakang bersama seorang babysitter. Anak ini memegang kantong makanan ringan yang sudah dibuka di tangan kirinya. Agak kerepotan juga karena lengan kirinya dipegangi sang babysiter. Tangan kanannya berusaha memegangi kantong makanan ringan tersebut.

Ibunya kemudian menoleh ke belakang dan berkata:”Sini kantong makanannya, ibu bawakan. Biar tidak repot.” Anak itu ragu-ragu sejenak. Tapi setelah berpikir sebentar, dia mengulurkan tangannya sambil berkata:”Jangan dimakan!”. “Nggak”, kata ibunya. Anak itu percaya perkataan ibunya dan menyerahkan kantong makanannya. Tapi Yulia kaget ketika melihat sang ibu langsung mengambil dan memakannya. Anak kecil itu berteriak:”Jangan dimakan!”. Si ibu hanya tertawa.

Sesampainya di bawah, anak kecil tadi merebut kembali kantong makanan dari tangan ibunya sambil marah-marah. Yang membuat Yulia sedih, Yulia melihat ekspresi kekecewaan dalam diri anak tersebut. Janji ibunya yang dipercayainya, ternyata tidak ditepati.

Mungkin bagi sang ibu, kejadian itu dianggap lucu. Tapi bagi si anak, hatinya luka dan kecewa. Apa arti sebuah janji kalau tidak bisa dipercaya? Kalau lain kali ibunya berjanji seperti itu lagi, apakah anaknya bisa percaya?

Ingkar janji

Yulia teringat ketika dia dulu masih kecil. Kebetulan Yulia senang ilmu bela diri. Yulia memiliki seorang paman yang sangat baik. Suatu kali pamannya ini membicarakan ilmu bela diri Yulia. Pamannya kemudian ingin mengukur kekuatan pukulan Yulia. Beliau meminta agar
Yulia memukul lututnya. Yulia menolak karena tidak ingin menyakiti lutut pamannya. Tapi pamannya meyakinkannya bahwa beliau tidak akan sakit.

Dari bimbang, akhirnya Yulia percaya penuh pada pamannya. Dia pun mengepalkan tinjunya yang kecil dan memukul lutut pamannya dengan keras. Tepat pada saat tinjunya hampir mengenai lutut sang paman, beliau menggerakkan lututnya dan menghindar. Kepalan tangan Yulia membentur pinggiran kursi yang terbuat dari kayu. Sakitnya bukan kepalang. Tapi, yang lebih sakit lagi adalah hatinya. Yulia sangat kecewa karena pamannya ternyata menipunya. Dia sudah menaruh kepercayaan penuh pada pamannya, tapi sang paman mengkhianatinya. Tapi pamannya terus tertawa karena menganggap kejadian itu lucu. Sungguh menyakitkan hati.

Rina, rekan kerja di ruang sebelah juga sedang menggerutu. Rina sudah lama berteman dengan Meri. Kemarin Meri pindah rumah. Rina yang sudah pernah merasakan repotnya pindah rumah berniat membantu Meri. Karena itu Rina mengatakan agar Meri tidak perlu khawatir. Rina pasti akan membantunya membereskan barang-barang di rumah barunya. Tapi kemarin Rina sibuk sekali di kantor. Karena itu, sorenya Rina malas ke rumah Meri. Ternyata Meri menelepon dan menanyakan mengapa Rina tidak datang. Meri menagih janji Rina.

Tapi rupanya Rina tidak suka. Memangnya saya berutang pada Meri?
Katanya. Yulia menjawab :”Janji adalah utang.”

Ferdi tadi menelepon. Dulu Ferdi bekerja di kantor tempat Yulia bekerja. Sudah dua tahun dia di sana. Kemudian dia pindah bekerja di perusahaan lain. Baru dua minggu dia bekerja di perusahaan yang baru itu. Ketika akan masuk kerja, dia dijanjikan mobil dan jabatan yang tinggi. Tentu saja Ferdi senang sekali bekerja di perusahaan tersebut.

Tapi ternyata fasilitas yang sudah dijanjikan tidak sesuai. Tak ada mobil. Ketika Ferdi menagih ke atasannya sesuai janjinya, malah beliau tersinggung. Katanya, dia kan tidak berutang apa-apa? Lagipula belum kelihatan hasil kerjanya kok minta mobil. Kalau ternyata perusahaan berat memberikan mobil, mengapa dulu begitu mudah mengucapkan janji? Bukankah janji adalah utang?

Di bagian penjualan, pagi tadi ada pelanggan yang marah-marah karena salah seorang karyawan berjanji akan datang pukul sembilan sambil membawakan formulir pesanan, ternyata hingga dua hari dia tidak muncul. Ada juga yang marah-marah karena bagian penjualan berjanji akan menelepon sepuluh menit lagi, eh ternyata sudah satu jam tidak juga menelepon. Padahal orang tersebut sudah menunggu di samping pesawat telepon.

Hari ini Yulia belajar sesuatu. Sebagian orang sangat meremehkan janji. Padahal janji adalah utang yang harus ditepati. Yulia berniat tidak akan terlalu mudah mengucapkan janji. Dia sadar kadang-kadang janji diucapkan hanya untuk menunjukkan pada orang lain bahwa dia baik. Tapi Yulia diingatkan, bukan janji yang membuat orang kagum pada kita. Tapi menepati janji yang pernah diucapkan jauh lebih berharga. “Janji adalah utang”. Keep your promise!

Kamis, 12 Maret 2015

BerdoaLah YanG bermanFaat unTuk disini dan disana

🌴Tiga do'a yg
tidak kalian lupakan dalam sujud kalian :

👉Allahumma innii asaluka husnal khatimah (اللهم إني أسألك حسن الخاتمة)
#Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu husnul khatimah.
👉Allahummarzuqnii taubatan nasuuhah qablal mauti (اللهم ارزقني توبة نصوحة قبل الموت)
#Ya Allah berilah hamba rezeki berupa taubat nasuhah sebelum mati.
👉Allahumma yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii alaa diinika (اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك)
#Ya Allah yg membulak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamamu.

🌴Bahkan jika anda berniat untuk menyebarkan kalimat ini, niatkanlah untuk kebaikan. Mudah-mudahan Allah menghilangkan untukmu dgnnya (kalimat ini) kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia dan akhirat.

🌴Sembilan perkara yg bermanfaat bagimu di dalam kehidupanmu sehari-hari :
1- ingin kebahagiaan = Shalatlah tepat pada waktunya.
2- ingin cahaya pada wajah = Laksanakan shalat malam.
3- ingin kelonggaran (hidup) = Bacalah Al-Qur'an.
4- ingin kesehatan = Berpuasalah.
5- ingin kelapangan (hidup) = Senantiasalah beristighfar.
6- ingin hilangnya kesedihan/kesusahan = Senantiasalah berdo'a
7- ingin hilangnya kesukaran/penderitaan = Ucapkanlah "لا حول و لا قوة إلا بالله".
8- ingin keberkahan = Bershalawatlah atas Nabi saw.
9- ingin kebaikan (yg banyak) tanpa rasa lelah = samPaikan pada kLuarGa dan Teman.

Rabu, 11 Maret 2015

DeAr Bunnda Ayah...

Islamic Parenting

👪💝MUKADIMAH of Islamic Parenting💝👪

👫"Anak yang telah memiliki rasa malu tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Perasaan malunya itu harus dimanfaatkan untuk mendidiknya. Bila pada awal pertumbuhan seorang anak ditelantarkan, nantinya kebanyakan dari mereka akan berakhlak buruk, suka berdusta, dengki, mencuri, mengadu domba, senang memeras orang lain, suka berbuat iseng, banyak tertawa, dan gemar melakukan tipu daya dan berkhianat.

🎓Semua perilaku buruk tersebut dapat dihindari dengan pendidikan yang baik, kemudian menyekolahkannya di sekolah yang baik pula. Dengan begitu ia mempunyai kesibukan mempelajari Al-Qur'an dan mendengarkan kisah-kisah pilihan.

🌷Kemudian, ketika pada anak telah tampak akhlak yang baik dan perbuatan yang terpuji, sudah sepantasnya bila ia dihargai dan diberi hadiah yang membuatnya gembira dan merasa tersanjung di hadapan banyak orang.

📝Anak semestinya diajarkan agar taat kepada kedua orang tua, guru, dan orang yang lebih tua usianya. Apabila sang anak telah memasuki usia tamyiz, jangan biarkan ia meninggalkan bersuci dan shalat. Anjurkan ia untuk berlatih melakukan puasa Ramadhan selama beberapa hari. Inilah beberapa hal utama yang harus diperhatikan dan dijaga sebaik-baiknya. Sebab, seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap menerima kebaikan atau keburukan. Kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya cenderung pada salah satu dia antara keduanya.

🎁Rasulullah pernah bersabda:
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari: I/1292. Ibnu Majah: I/129. Al-Baihaqi: VI/11918, dan lainnya)

📚Source:
Islamic Parenting - Pendidikan Anak Metode Nabi

BerceRminLah

CerMin bUkan aLat meLihat kLebiHan.. meLainKan MeLihat kekUranGan.. LogikanYa,kita Bercermin unTuk Cari tahu rataKah Bedak kita? RapiHkah paKaian kita? BgituLah seharUsnya. Menghadap Ke cerMin,berarti menGhadapKan diri pada diri sendiri. Ratakah Baik kita? JanGan SamPai berat sebeLah,berat Kepada oRanG yanG kaya saja,berat Kepada OranG yaNg cantik gagah saja. KaRna Berat sbeLah akan merusak KeseimBanGan. Tidak seimBanG berarti piNcang. Pincang Berarti Cacat. Cacat berarti sakit. Sakit berarti butuh perhatian Lebih. Dari siapa? Dari Allah,diri sendiri dan LingkUngan.
MaRi bersama.. meLihat kekuRanGan diri sendiri.
Sesibuk sibuk yanG paLing BermanFaat adaLah sibUk mengurus kekuRanAn diri sendiri,samPai Lupa MenGurus kekuRanGan OranG Lain.
ManFaatKan Cermin Sesuai KeperLuannya.
SeLamat seLasa smUa.
BarakaLLah For today
😙😘😚

Selasa, 10 Maret 2015

UntuKmu OranGtua

Share dari teman,

SMS Dari pak KASMIR seorg ikhwa yg meninggal anak perempuannya umur 15 thn lebih tgl 23 februari 2015   sekitar 15menit sebelum magrib , di  ponpes Imam Ahmad bin Hambal SEMARANG
Dlm keadaan menuntut ilmu dan puasa daud.

Bismillah, beberapa tulisan di BUKU CATATAN  Anakda "Aisyah" Rahimahalloh yg mungkin bisa jadi nasehat dan pelajaran bagi kita para org tua & kpd anak2 kita, agar kita semua senantiasa ikhlash dan bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu agar kita dpt meraih Ilmu yg Nafi', semoga Alloh menolong kita utk meraih kemenangan ketika akan meninggalkan dunia yg fana ini dlm keadaan Husnul Khotimah & meraih kebahagian yg hakiki, masuk Syurga...آمين

1. Abi... Jika angin berhembus membawa cerita, bumi yg bergetar tanda bencana, awan berkabut hitam tanda bahaya... Maka, ketika aku terdiam di dekat pintu, tanpa berfikir waktu menanti kepulanganmu adalah tanda bahwa aku sangat sayang kepadamu. Aku sayang kepadamu Abi bukan krn engkau pemilik harta yg melimpah, rumah yg sangat mahal lagi megah, kedudukan yg tinggi ... Aku menyayangi Abi krn ALLOH...Aku hanya memiliki seorang Abi...Dan aku tdk ingin kehilangan yg sangat berharga dan satu-satunya di dunia dan di akhirat... Yang aku harapkan dpt mengecup keningku dgn kasih sayangmu...

2. Ummi, sungguh bahagianya diriku mempunyai seorg ummi sepertimu. Engkau yg tdk pernah mengajariku berbohong & tdk pernah mengajariku perbuatan tercela . Engkau yg selalu berdo'a untukku, semga aku menjadi anak yg sholihah, menjadi seorg anak yg taat kpd perintah Alloh dan Rosul Nya.
Ummi izinkan aku dan anak-anak ummi yg lain membuka pintu syurga dengan senyum keridhoanmu & mengunci pintu neraka rapat-rapat dgn maaf, do'a & kasih sayangmu .
Dan semoga Alloh mengumpulkan kita di syurgaNya yg penuh dengan kenikmatan dan keridhoanNya..

3. Ummi...Izinkan aku menangis jika air matamu terjatuh krn kedurhakaanku. Kedua tanganmu memelukku krn kerinduanmu padaku, bibir dan lisan mu yg kau basahi dgn dzikir dan doa demi mengharapkan kesholihan agama akhlaqku. 

4. Ummi sayang, dengarlah sesungguhnya buah hatimu ini tdk pernah berharap ketika ia besar nanti, ia menjadi seorang sarjana yg berbangga diri krn telah tercapai cita citanya. Karena sesunggunya cita citanya yg paling tinggi adalah bisa melihat senyum indahmu ketika berada disisimu & didekapan dadamu & ketika air mata terjatuh krn rindu akan cinta & kasih sayangmu...

5. Ummi... Ketika detak jantungku mulai berdetak kencang dan terasa akan berhenti, saraf dlm tubuhku mulai merasakan sakit yg tdk akan terobati. Denyut nafas dlm jiwaku mulai terasa berhenti maka, hanya kalimat maaf yg msh terlantum lembut dari lubuk hati kecilku ini. Untuk mu seorang ummi penuh kasih dan cinta yg telah memberikanku kecupan di pipi...

6. "Dahi ini tak mampu terangkat, Lutut ini tak mampu lagi menumpu, Mata ini tak mampu lagi membendung. Rabb aku Rindu.  Aku ingin Pulang.   Pulang ke rumah-Mu (Al Jannah)".     "Aku cinta keluargaku, Semoga aku bisa ketemu keluargaku lagi di Surga".

FoR us

" Surat Cinta Tentang Sholat "

💐Bila engkau anggap solat
itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.

💐Bila kau anggap solat hanya sebuah kewajipan, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya..

💎Anggaplah solat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.

💎Anggaplah solat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Allah swt.

💎Anggaplah solat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Allah swt.

💎Anggaplah solat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.

🌟Bayangkan ketika "azan berkumandang", tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.

🌟Bayangkan ketika kau" takbir", Allah melihatmu, Allah senyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.
🌟Bayangkanlah ketika "rukuk", Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya.

🌟Bayangkan ketika "sujud", Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu: "Aku Mencintaimu hambaKu".

🌟Bayangkan ketika kau "duduk di antara dua sujud", Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan : "Aku tak akan diam apabila ada yang mengusikmu".

🌟Bayangkan ketika kau memberi "salam", Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu...Subhanallah sungguh nikmat solat yg kita lakukan.

Tidak sia2 yg menyebarkan nya,
Tidak rugi org yg membacanya,
Beruntunglah org yg mengamalkannya.
ILMU IMAN AMAL O:) :-)<

Senin, 09 Maret 2015

"VIRUS EXCUSE"

Virus Excuse pada anak*
By Asma Nadya

Seorang anak pulang sekolah membawa nilai buruk. Ibunya kontan kecewa.

"Soalnya tidak sesuai dengan materi yang diajarkan!" kilah sang anak cepat-cepat, dengan raut  memelas.

Sang ibu diam, mencoba memaklumi.

Di  hari lain, sang anak kembali dengan nilai  rendah yang membuat ibunya berwajah masam.

"Habis gurunya nggak enak ngajarnya, sih," keluh putranya.

Seminggu kemudian, anak yang sama, pulang membawa hasil ujian yang tidak memuaskan,  mirip nilai sebelum-sebelumnya.

Kali ini wajah sang ibu memerah, semerah angka di kertas ujian buah hatinya.
"Jangan marah dulu, Bu. Tadi ada keributan di sekolah, jadi nggak konsen mengerjakan  ujian," hati-hati anaknya mengemukakan alasan.

Si Ibu yang diam-diam curiga dan yakin ada yang tidak beres, esoknya memutuskan pergi ke sekolah untuk menemui teman-teman sekelas putranya. Dari jawaban yang diterima, ternyata banyak yang meraih nilai bagus di ujian pertama. Ini mengherankan. Bagaimana mungkin ada cukup banyak siswa tetap memeroleh nilai bagus sekalipun materi ujian berbeda dengan yang telah diajarkan, sementara kondisi tersebut justru membuat nilai putranya jatuh.

Sang Ibu lalu menanyakan perolehan angka pada ujian kedua, uniknya masih banyak di antara teman sekelas putranya yang menyatakan mendapat nilai baik. Meski seluruhnya mengakui ketidakcakapan guru mata pelajaran tersebut saat mengajar. Terakhir, sang ibu mencari tahu benarkah terjadi keributan saat ujian ketiga diselenggarakan. Kompak siswa dan siswi sekelas putranya mengangguk. Anggukan yang disusul keterangan bahwa apa yang terjadi tidak lantas membuat prestasi ujian mereka menurun. Ada apa ini?

Dialog yang berlangsung lambat laun akhirnya mengantarkan sang ibu pada pemahaman, bahwa masalahnya bukan terletak pada guru, bukan pula pada pelajaran sekolah, atau situasi kegiatan belajar mengajar, melainkan murni berasal dari putranya.

Di teras rumah, setelah pulang dari sekolah, Sang Ibu pun menegur anaknya yang selama ini sibuk menyalahkan soal-soal, guru, dan berbagai situasi atas buruknya nilai yang didapat. Beberapa saat putranya  terdiam, seolah mencerna kalimat demi kalimat yang lahir dari ibunya, meski kemudian dengan setengah berbisik tetap mengeluarkan dalih, "Teman-temanku itu dari keluarga kaya, Bu. Semua semua sarana belajar ada, ditambah ikut les privat, terus kemana-mana diantar jemput, jadi tidak capek!"

Mendengar jawaban itu, sang ibu tercenung. Lebih dari yang dikiranya. Sang anak rupanya telah dihinggapi virus "EXCUSE" tingkat kronis, yang mendorongnya terus mencari alasan atas kegagalan sendiri.

Dalam pengaruh virus tersebut seseorang akan selalu berhasil menemukan deret alasan bagi kegagalannya--bahkan meski alasan itu mengada-ada atau tidak masuk akal dan tidak 'nyambung' dengan permasalahan pokok.

Seperti anaknya yang tidak pernah kehabisan dalih, terbiasa menimpakan kesalahan pada siapa dan apa saja kecuali dirinya sendiri. Ini celaka, batin sang Ibu lagi. Sebab orang yang cenderung menyalahkan keadaan dan pihak-pihak lain, akan sulit menjadi sukses. Pertama, Mereka yang terbiasa menyalahkan pihak lain pada akhirnya akan tidak terbiasa atau lupa mencari akar masalah sebenarnya. Sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Kedua, pribadi yang terbiasa excuse atau beralasan, saking sibuk terus saja mencari kesalahan orang lain atau keadaan, akan luput meneropong dan menggali kekuatan diri yang sebenarnya dimiliki untuk memperbaiki situasi.

*Mhn maaf admin mengganti judul dan mengedit sebagian dAri keseluruhan tulisan teRsebUt uNtuk penyesuaian deNgan tema pAreNtiNg*

Dikutip dr judul asli:
"Dolar Naik, Bukan Salah Saya"
Republika, Minggu (8/3/2015)

Semoga bermanfaat

Minggu, 08 Maret 2015

Menikmati Hidup

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.
Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.
Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.
Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan. 
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan. 
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.
Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.
Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus